
Muaradua // rakyat merdekari co . id
Perayaan malam takbiran di jantung Kota Muaradua, OKU Selatan, menyisakan catatan kelam bagi sektor keamanan publik. Insiden berdarah yang menimpa BS (24), seorang pemuda yang menjadi korban pembacokan oleh tiga orang tidak dikenal (OTK) pada Jumat (20/3/2026) malam, mengungkap celah besar dalam strategi pencegahan konflik di wilayah hukum Polres OKU Selatan.
Meskipun aparat kepolisian mengklaim telah melakukan penyelidikan pasca-kejadian, fakta di lapangan menunjukkan adanya kekosongan pengamanan saat tensi warga mulai meningkat di Simpang Ketuay. Padahal, lokasi ini merupakan titik vital yang hanya berjarak tempuh singkat dari Mapolsek Muaradua dan Pos Pengamanan (Pospam) Operasi Ketupat.
Minimnya patroli keliling di jam-jam rawan malam takbiran diduga kuat menjadi penyebab gagalnya deteksi dini. Akibatnya, kericuhan yang seharusnya bisa diredam sejak awal justru eskalasi menjadi aksi pengeroyokan menggunakan senjata tajam jenis pedang.
Korban BS, yang berniat baik melerai keributan, kini harus terbaring di RSUD Muaradua dengan luka sobek parah di lengan kanan dan perut. Serangan agresif dari para pelaku OTK tersebut seolah menegaskan bahwa ruang gerak pelaku kriminal masih terbuka lebar di tengah momentum pengamanan Operasi Ketupat.
Publik kini mempertanyakan efektivitas fungsi pencegahan (pre-emtif) yang seharusnya dikedepankan oleh kepolisian. Kehadiran petugas secara fisik di titik-titik keramaian seperti Simpang Ketuay seharusnya mampu memberikan efek jera (deterrent effect) bagi potensi pelaku kericuhan.
Tanpa adanya patroli yang nyata di lapangan pada malam krusial tersebut, jargon “Kamtibmas Kondusif” dirasa hanya menjadi narasi di atas kertas. Masyarakat mendesak agar Polres OKU Selatan tidak hanya fokus pada pengejaran pelaku setelah kejadian, tetapi juga mengevaluasi total sistem penjagaan wilayah agar tragedi serupa tidak terulang di malam kemenangan Idul Fitri.















