
TULANG BAWANG — LAMPUNG Tidak akan ada habis nya perbincangan masyarakat khusus kabupaten tulang bawang terkait kelangkaan solar subsidi yang di peruntukan untuk masyarakat di wilayah tulang bawang ini jika pemerintah daerah atau aparat penegak hukum tidak ambil sikap tegas dan pandang bulu. Pencurian solar subsidi menjadi solar industri yang di jadikan oknum berpakaian loreng atau coklat serta pengusah bermain di balik layar dengan bahasa memberikan pekerjaan bagi masyarakat pelangsir.
Kami awak media tidak sedikit melihat menemukan kejanggalan yang di lakukan oleh oknum tertentu serta aparat penegak hukum yang bermain serta jadi pelaku pencurian solar subsidi. Bahkan pengusah SPBU yang bekerjasama dengan oknum yang seharus menjaga dan memantau arah subsidi harus tepat ke masyarakat yang berhak menerima bukan jadi pelaku pelaktik kecurangan dengan menggunakan jabatan dan pangkat untuk memprovokasi masyarakat dengan mengim imingkan harga yang lebih tinggi menjadikan pelangsir dengan mengatas namakan masyarakat.
Dugaan Kecurangan oknum oknum dengan membeli solar subsidi dan di jadikan industri. Bahkan tidak sedikit pula yang bermain oknum LSM dan Wartawan dengan menggunakan jabatan LSM dan wartawan bisa mengatur cara dan melobi aparat untuk tutup mata dan telinga terkait cara curang yang di lakukan di setiap SPBU yang ada di kabupaten tulang bawang.
Kemana masyarakat yang membutuhkan bahan bakar solar subsidi yang di peruntukan untuk petani dan nelayan yang harus mendapatkan hak subsidi yang di berikan oleh pemerintah pusat.
Petani yang menggunakan alat mesin alsintan seperti kombet. Bajak serta alat penanam padi sejenisnya. Banyak sekali petani di pelosok yang mengeluh kelangkaan solar subsidi yang katanya subsidi untuk masyarakat miskin ternyata di rampas oleh oknum oknum yang sudah bahas, kordinasi dengan pihak penegak hukum (Polisi)
Adapun solar subsidi yang di dapati oleh petani khusus nya kelompok tani itu sudah di atas harga Harga Ecer Tertinggi (HET) Rp 10.000 sampai 12.000 dengan terpaksa petani membeli di karenakan kelangkaan solar yang harus di butuh untuk dan agar dapat mesin alsintan tersebut bekerja dengan memenuhi target pemerintah yaitu program presiden suwasembada Pangan.
Kuat dugaan Pengelola atau pemilik SPBU memilih kerjasama dengan oknum oknum nakal dan curang dengan membeli BBM jenis solar subsidi di atas harga Gapoktan yang lebih tinggi daripada harus menjual dengan petani atau nelayan yang harga rendah dengan hitung pemilik SPBU lebih menguntungkan pemilik SPBU dari pada kepentingan masyarakat pada umum nya.
Harapan petani pemerintah kabupaten tulang bawang seharusnya memberikan ijin ke setiap SPBU yang ada di tulang bawang ini untuk memberikan rekomendasi nya dan tidak di persulit dengan alasan apapun itu. Jika pemerintah tegas ke setiap pemilik SPBU yang tidak melayani petani dengan benar benar kebutuhan petani, layak nya ambil sikap tegas untuk menutup ijin operasional nya di wilayah kabupaten tulang bawang sikap tegas.
Pemerintah hanya memberikan ijin kepada pelangsir sementara petani dan nelayan hak subsidi nya hilang di rampas oleh pengusaha dan oknum Nakan dengan menggunakan seragam untuk menakuti masyarakat yang berani menyampaikan kebenaran.
Pemerintah provinsi sudah menambah kuota solar subsidi kok masih saja di mana mana selalu kelangkaan solar kalau pun ada harga sudah menjadi solar industri. Dengan terpaksa petani dan nelayan membeli kebutuhan yang sangat vital.
Kabupaten tulang bawang ini surga bagi oknum berseragam loreng atau coklat serta oknum LSM dan wartawan berjamaah merampas subsidi yang harus dan mesti untuk masyarakat miskin, di jual lagi menjadi solar industri.
Apakah dengan cara tutup mata dan telinga pemerintahan agar menutupi kesalahan dengan membiarkan hal semakan ini agar LSM dan wartawan tidak memantau gerak gerik kesalahan yang pemerintah lakukan. Dengan kata lain bersama sama kita mencuri hak rakyat tapi beda cara dan beda aturan.
Dalam hal kelangkaan Solar subsidi di pelosok desa atau kampung yang ada di tulang bawang ini khusus nya petani dan nelayan, tidak ada ucapan kepala daerah yang sanggup dan memperjuangkan kebutuhan petani dan nelayan. apa pernah kita dengar ucapan kepala daerah berpidato yang memperhatikan petani nelayan.

Petani di tuntun untuk memperkuat program presiden dalam program unggulan suwasembada pangan 1 tahun 3 kali panen padi. Seperti salah satu kampung yang berada di pelosok kabupaten tulang bawang kampung Gedung Jaya. dengan mayoritas petani padi yang hak Subsidi nya di cabut dan di persulit oleh pemilik pengelola SPBU yang ada di kabupaten ini. Satu dari 147 kampung yang ada di tulang bawang.
Petani berharap dengan pemerintah duduk bareng dan mencari solusi dan arahan oleh bapak bupati dan Kapolres tulang bawang. Hal semacam ini pemerintah atau aparat penegak hukum jangan tutup mata dan telinga jeritan petani dan nelayan serta masyarakat khusus masyarakat tulang bawang provinsi lampung.
(Rmri : Cop)







